Hasil KKL Geografi-UPI ’08

BAB III

PROSEDUR KERJA

A. Metode kajian

Metodologi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu metode yang meneliti status kelompok manusia, obyek, kondisi, pemikiran ataupun peristiwa yang ada di masa sekarang. Winarno Surakhmad mengemukakan cirri-ciri metide penelitian deskriptif sebagai berikut:

1. Memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang actual yang sedang dihadapi dan berlangsung pada saat ini

2. Data yang terkumpul mula-mula disusun kemudian dijelaskan dalam analisa.

B. Lokasi dan Sumber Data

Lokasi penelitian ini ada di bantaran Sungai Citanduy, tepatnya di Kampung Cilutung, Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis.

Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Kampung Cilutung, dan sampelnya diambil dari 10 orang penduduk kampong tersebut.

C. Teknik dan Instrumen pengumpulan Data

Agar data yang relevan dapat terkumpul, maka dalam penelitian ini kami mempergunakan beberapa teknik sebagai berikut:

1. Wawancara

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka antara peneliti dengan obyek penelitian.

2. Observasi

Observasi dapat diartikan memperhatikan sesuatu denganmata telanjang. Kegiatan observasi ini meliputi angket dengan pertanyaan tertutup (artinya jawaban dari responden terbatas) dan pengamatan langsung ke lapangan dengan menggunakan metode ilmiah

Adapun instrument yang diperlukan dalam penelitian ini adalah B-1, B-2, C-1, D, E-1 (instrument terlampir).

D. Teknik Analisis Data

Data yang didapatkan berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Pengolahan data kuantitatif ini meliputi:

1. Mengelompokan data. Pengolahan data dimulai dengan memeriksa ulang data-data yang telah terkumpul, apabila masih kurang sempurna maka disempurnakan lagi ke sumber datanya. Dan bila data tersebut dinilai tidak relevan atau tidak mendukung, maka data tersebut akan disisihkan atau dibuang.

2. Pengkodean. Setelah memeriksa ulang data, maka langkah selanjutnya adalah member kode pada setiap data yang terkumpul di setiap instrument dan angket.

3. Pengolahan statistic sederhana dengan cara mengolah data tersebut sehingga mempunyai arti. Pengolahan ini melalui distribusi frekuensi.

4. Tabulasi silang. Hal ini dilakukan untuk keperluan analisis deskriptif.

Sedangkan pengolahan data kualitatif dilakukan dengan cara:

1. Reduksi data. Reduksi data merupakan bagian dari pengolahan yang meliputi proses pemilahan data, penyederhanaan data, pengabstrakan data dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan yang ada atau data yang ada.

2. Penyajian data yang dijadikan sebagai informasi yang tersusun dan meberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajiannya dalam bentuk naratif, bagan dan grafik.

3. Menarik kesimpulan atau verifikasi dari apa yang telah disusun berdasarkan perolehan data.

BAB IV

HASIL STUDI DAN PEMBAHASAN

A. Kondisi Geografis

1. Kondisi Fisik

Kampung Cilutung merupakan daerah dataran rendah, dengan luas wilayah sekitar 86 hektar. Iklim di daerah tersebut dapat dikategorikan panas, sebab terpegaruhi oleh kondisi pantai.

Jenis tanah di Kampung Cilutung ini adalah alluvial (yang merupakan endapan dari Sungai Citanduy) dengan pH 7 dan seyelah diukur dengan meneteskan 10% H2O2 maka dapat dianalisa bahwa kandungan organiknya cukup banyak.

Karena keadaan lahan Kampung Cilutung yang seperti itu, maka penggunaan lahan daerah ini adalah untuk dijadikan lahan pertanian. Jenis padi yang ditanam oleh masyarakat adalah Sadane dan IR. Sebagian besar (hamper 95%) penggunaan lahannya adalah untuk pertanian, namun sebagian masyarakat Kampung Cilutung ada yang memanfaatkan lahan yang mereka miliki untuk ditanami jagung dan kacang panjang.

Drainase atau kemampuan tanah dalam meloloskan air di Kampung Cilutung ini tergolong lambat. Hal ini dapat dilihat pada saat musim kemarau tanah di kampung tersebut kering kerontang dan retak-retak, padahal Sungai Citanduy tidak mengalami kekeringan.

Bila dikaji dengan seksama, ternyata hal yang mempengaruhi keadaaan sumur saat musim kemarau yang tidak sesuai dengan keadaan sungai Citanduy yang tak pernah kering bukan hanya drainase tanah yang lambat, namun juga karena pengaruh geologi daerah tersebut. Pada Miosen Tengah terjadi sesar menurun di sepanjang Sungai Citanduy, akibatnya terjadi pemisahan dan air sulit untuk mresap.

Bila hujan lebat terjadi, air sungai dapat meluap dan menyebabkan terjadinya banjir. Perhatikan data yang diproleh dari hasil penelitian dalam table di bawah ini:

Tabel 4.1

KEADAAN RUMAH WARGA KAMPUNG CILUTUNG SAAT TERJADI HUJAN LEBAT

No.

Kategori

Frekuensi

Persentase (%)

1

ya

6

60

2

tidak

4

40

Jumlah

10

100

Berdasarkan data di atas, 60% rumah penduduk terendam saat air sungai meluap karena hujan lebat. Air yang rob masuk ke dalam rumah hingga mencapai betis orang dewasa. Masyarakat yang rumahnya terendam saat air meluap tinggal 5-10 meter dari bibir sungai Citanduy. Sedangkan rumah yang jaraknya dari bibir sungai lebih dari 10 meter tidak terendam.

2. Kondisi Sosial

Kampung Cilutung merupakan kampong yang polanya memanjang mengikuti alur sungai. Aksebilitas wilayahnya dapat dikatakan buruk dengan tipe jalan batu yang diperkeras. Alat transportasinya adalah kendaraan beroda dua. Hal ini mencerminkan bahwa untuk bepergian ke daerah lain sulit untuk dicapai.

Table 4.2

MATA PENCAHARIAN PENDDUK KAMPUNG CILUTUNG

No.

Kategori

Frekuensi

Persentase (%)

1

pertanian

7

70

2

perkebunan

1

10

3

peternakan

1

10

4

nelayan

1

10

Jumlah

10

100

Berdasarkan tabel tersebut, mata pencaharian yang menjadi sector utama di Kampung Cilutung adalah di bidang pertanian. Hal ini dikarenakan kondisi tanah di wilayah tersebt berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian. Masyarakat hanya dapat melakukan panen dalam satu tahun, sebab pola pertanian nya adalah sawah tadah hujan. Saat musim kemarau, masyarakat tidak dapat bertani, dan mereka mencari pekerjaan serabutan lain seperti mengojeg, namun tidak semua masyarakat melakukannya sebab hanya beberapa orang yang memiliki kendaraan bermotor. Sebagian besar ibu-ibu rumah tangga di kampong tersebut membuat gula aren yang kemudian dijual ke pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan bila musim penghujan terjadi, saat terjadi hujan yang sangat lebat hingga menimbulkan banjir sawah-sawah penduduk terendam banjir.

Sector kedua adalah perkebunan. Pohon yang biasanya ditanam adalah jagung dan kacang panjang. Dan sector ketiga adalah peternakan. Hewan yang dipelihara adalah ayam, bebek dan kambing. Di Kampung Cilutung hanya terdapai satu orang yang memiliki perahu untuk menangkap ikan, sehingga hanya orang tersebut yang bermatapencaharian menjadi nelayan. Komoditasnya adalah ikan sungai dan udang. Karena lokasinya yang tidak terlalu dekat dengan pantai, maka orang tersebut hanya menangkap ikan-ikan yang ekosistemnya di sungai.

Sebagian besar status penduduk usia kerja atau pemuda adalah menganggur, sebab peluang kerja sangat sulit. Hal ini mungkin karena latarbelakang pendidikan masyarakat daerah tersebut masih rendah. Pendidikan tertinggi yang dikecap masyarakat hanya sampai tingkat SLTP.

Kondisi infrastruktur di Kampung Cilutung kurang baik. Di daerah ini hanya terdapai 1 SD dan 1 pos terminal yang juga untuk kampung-kampung yang lainnya. Di kampong ini terdapat tiga buah madrasah atau pesantren, sedangkan infrastruktur seperti posyandu, dermaga, pelelangan ikan, tempat pendaratan dan lain-lain tidak terdapat.

Kelompok kelembagaan masyarakat yang paling berpengaruh adalah RT yang berfungsi untuk mengatur dan mengawasi semua yang ada di kampung Cilutung. Dalam rangka pengelolaan daerah ini,pemerintah mencanangkan beberapa program, diantaranya seperti yang dilakukan oleh Baappeda.

Lokasi Kampung Cilutung yang berada di bantaran Sungai Citanduy berbatasan dengan Jawa Tengah. Dengan begitu terdapat masyarakat sekitar memiliki kemudahan untuk melakukan mobilitas. Uniknya, interaksi tersebut tidak menjadikan konflik bagi warga Kampung Cilutung dengan masyarakat Jawa Tengah, mereka hdup berdampingan secara harmonis.

B. Hasil dan Pembahasan

1. Kaeadaan Sumber Daya Air di Kampung Cilutung

Kampong Cilutung terletak di sebelah barat sungai Citanduy. Keadaan air nya berubah-ubah setiap musim. Apabila hujan sangat lebat maka air sungai akan meluap. Air sungai berwarna cokelat, menandakan bahwa sungai tersebut membawa sedimen dan lumpur yang nantinya akan terendapkan di muara sungai yaitu di Majingklak. Pada saat itu air sumur rasanya tawar dan dimanfaatkan oleh masyarakat sekiar untuk kebutuhan sehari-hari.

Perhatikan data yang diproleh dari hasil penelitian dalam table di bawah ini:

Tabel 4.3

PEMENUHAN AIR BERSIH PADA MASYARAKAT KAMPUNG CILUTUNG

No.

Kategori

Frekuensi

Persentase (%)

1

Sungai

0

0

2

Sumur

10

100

3

PDAM

0

0

Jumlah

10

100

Berdasarkan data di atas maka dapat dianalogikan bahwa pemenuhan kebutuhan air bersih pada masyarakat Kampung Cilutung 100% melalui sumur. Masyarakat tidak mampu apabila pemenuhannya melalui PDAM, sebab biayanya cukup mahal. Dan Masyarakat pun tidak memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari sebab rasanya payau. Berikut ini adalah table yang menggambarkan penggunaan air sungai oleh masyarakat:

Tabel 4.4

PEMANFAATAN AIR SUNGAI CITANDUY OLEH MASYARAKAT KAMPUNG CILUTUNG

No.

Kategori

Frekuensi

Persentase (%)

1

kebutuhan sehari-hari

0

0

2

Irigasi

0

0

3

menyiram tanaman

3

30

4

tidak dipergunakan

7

7

Jumlah

10

100

Dari data di atas tampak bahwa sebagian besar (sebanyak 70%) masyarakat tidak memanfaatkan air sungai, namun 30% masyarakat mempergunakannya untuk menyiram tanaman yang ada di pekarangan rumahnya.

Ketebalan air sumur pada musim hujan lebih dari 3 meter, sedangkan apabila pada musim kemarau ketebalannya kurang dari setengah meter.

2. Masalah yang Dihadapi Masyarakat Kampung Cilutung dalam Pemenuhan Ketersediaan Air Bersih

Sebelumnya telah dipaparkan bahwa keadaan air di daerah ini berubah-ubah sesuai musim. Untk pengkajian lebih lanjut, perhatikan data yang diperoleh melalui hasil penelitian dalam table di bawah ini:

Table 4.5

KENDALA YANG DIHADAPI MASYARAKAT KAMPUNG CILUTUNG

DALAM MEMPEROLEH AIR BERSIH SAAT MUSIM KEMARAU

No.

Kategori

Frekuensi

Persentase (%)

1

rasanya asin

9

90

2

kekeringan air

1

10

Jumlah

10

100

Berdasarkan data pada tebel tersebut, 90% masyarakat merasa bahwa saat peralihan musim dari musim penghujan ke musim kemarau, air sungai surut dan terjadi intrusi air laut sehingga air sumur rasanya payau. Dan 10 % menyatakan bahwa air sumur pada saat musim kemarau ketebalannya kurang dari setengah meter hal ini menandakan adanya kekeringan. Selain itu, masyarakat juga menambahkan bahwa saat musim kemarau airnya berwarna cokelat kemudaan dan agak berbau. Pada saat penelitian berlangsung, di sekitar sumur terdapat limbah domestic seperti sampah, bangkai, kotoran dan lain-lain. Masalah lain, jarak antara sumur dan septiktank hanya 9 meter sehingga tidak menutup kemungkinan air sumur tercemari. Dengan kondisi seperti yang telah dipaparkan di atastentu saja masyarakat Kampung Cilutung kesulitan dalam memperoleh air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain masalah kesulitan penyediaan air bersih yang dihadapi oleh masyarakat Kampung Cilutung, masalah lainnya yang berhubungan dengan air bersih adalah kurangnya sumur di daerah tersebut. Di Kampung Cilutung, satu sumur digunakan oleh dua sampai tiga kepala keluarga. Dapat dibayangkan bahwa masyarakat harus mengantri untuk mendapatkan air sumur tesebut, padahal berada dalam keadaan banyak air (musim penghujan).

3. Cara Masyarakat Kampung Cilutung Dalam Memenuhi Kebutuhan Air Bersih

Melihat kondisi di atas yang kurang baik, tentunya masyarakat setempat dapat memenuhi kebutuhan air bersih nya hanya pada saat musim hujan saja. Perhatikan data yang diproleh dari hasil penelitian dalam table di bawah ini:

Table 4.6

PEMENUHAN AIR BERSIH PADA MASYARAKAT KAMPUNG CILUTUNG

SAAT MUSIM KEMARAU

No.

Kategori

Frekuensi

Persentase (%)

1

memanfaatkan sungai

0

0

2

mencari ke daerah lain

8

80

3

membeli

2

20

Jumlah

10

100

Dari data diatas, 80% masyarakat Kampung Cilutung memenuhi kebutuhan air bersihnya dengan mencari ke daerah lain yaitu ke Kampung Kebon Kalapa. Untuk dapat sampai ke kampong tersebut masyarakat harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 4 Km dari Kampung Cilutung sebab tidak ada alat transportasi yang dapat dipergunakan selain sepeda motor. Setelah sampai di Kampung Kebon Kalapa, masyarakat pun harus mengantri untuk ,endapatkan air bersih karena tidak hanya masyarakat Kampung Cilutung saja yang mengalami masalah dalam pemenuhan air bersih, namun masyarakat di daerah lain pun mengalami kondisi yang sama juga. Air dari kampung tersebut memang bersih, namun warnanya sedikit kuning. Walaupun begitu, air tersebut aman untuk dikonsumsi. Masyarakat biasanya mengangkut air tersebut ke dalan jaliken atau drum kecil dan memawanya dengan cara dipikul dengan menggunakan bambu. Ada juga yang membawanya dengan alat angkut yang lebih praktis.

Selain dengan pergi ke Kampung Kebon Kalapa untuk mendapatkan air bersih, sebagian masyarakat yang keadaan ekonominya dapat dikatakan “cukup” terkadang merasa malas bila harus pergi kesana dan mengantri berjam-jam untuk mendaratkan air bersih. Solusinya adalah mereka membeli air bersih tersebut kepada orang yang menjualnya dalam drum. Harganya variatif, mulai dari yang Rp. 2000,- ; Rp. 3000,- dan Rp. 5000,- per drum air sesuai dengan ukuran drum tersebut.

Masyarakat tidak ada yang memanfaatkan air sungai untuk pemenuhan air bersih ini, sebab airnya kotor (sudah tercemari berbagai limbah domestic seperti bangkai, sampah, kotoran, dll) dan rasanya pun tidak tawar.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan bab-bab sebelumnya kami dapat menarik kesimpulan bahwa:

1. saat terjadi hujan yang lebat air sungai meluap sehingga dapat mengakibatkan rob. Pada saat ini air sumur rasanya tawar. Dalam keadaan seperti itu, masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya terhadap air bersih. Sedangkan saat musim kemarau, air sungai surut dan akibatnya terjadi intrusi air laut sehingga menyebabkan air sumur rasanya tidak tawar lagi.

2. Masalah penyediaan air bersih di Kampung Cilutung tersebut dikarenakan benerapa hal, diantaranya:

a) Air sumur rasanya payau karena terjadi intrusi air laut, akibatnya air sumur tersebut tidak dapat dimanfaatkan

b) Ketebalan air sumur kurang dari setengah meter sehingga terjadi kekeringan air

c) Air sumur berwarna cokelat, berbau dan di sekitarnya ditemukan sampah domestok seperti sampah, bangkai, kotoran dan lain-lain. Akibatnya tidak dapat dimanfaatkan

d) Jarak dari sumur ke septiktenk hanya 9 meter. Tidak menutup kemungkinan bahwa akan terjadi pencemaran

Dari keempat masalah di atas maka dapat dianalogikan bahwa penyediaan air bersih pada saat musim kemarau di daerah Kampung Cilutung sangatlah sulit.

3. Cara masyarakat Kampung Cilutung dalam pemenuhan air bersih ini adalah dengan cara:

a) Mengambil air dari Kampung Kebon Kalapa yang dapat menyediakan kebutuhan air bersih. Untuk mendapatkannya masyarakat harus berjalan kaki sejauh 4 Km dan harus mengantri.

b) Masyarakat membeli air bersih yang dijual per drum sesuai dengan ukuran nya.

B. Saran

Saran yang dapat penulis sampaikan diantaranya:

1. Pemerintah pusat harus bekerjasama dengan pemerintah daerah mengenai masalah penyediaan alat destilasi air

2. Bila alat destilasi air dikatakan mahal, maka pemerintah harus memikirkan bagaimana caranya agar PDAM dapat masuk desa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: