Sumber Daya Air Di Kampung Cilutung Desa Pamotan Kecamatan Kalipucang

ini adalah hasil KKL pertamaku di Kecamatan Kalipucang, Ciamis-Jawa Barat.

huuh,, awalnya sich aneh gitu, masa baru juga semester 2 kok udah KKL lagi?

yang aku tau kan kalau KKL itu buat yang udah semester 5 ke atas, hehehehe…

well, inilah hasil “perantauanku di negeri orang”

Kampung Cilutung terletak di bantaran Sungai Citanduy, Kampung ini (menurut saya) termasuk kampung yang kecil. Pola perkampungannya adalah memanjang mengikuti alur sungai Citanduy yang bermeander. daerah ini berbatasan langsung dengan Jawa Tengah.

jenis tanah di daerah ini adalah tanah aluvial dengan pH 7. setelah diuji dengan H2O2, maka dapat diketahui bahwa kandungan organisme dalam tanahnya cukup banyak sehingga dapat dikatakan bahwa tanah di daerah ini subur.

sebagian besar mata pencaharian penduduknya bergerak di bidang pertanian. Namun sayangnya di daerah ini tidak terdapat irigasi sehingga lahan pertaniannya adalah sawah tadah hujan. Masyarakat di kampung tersebut dapat melakukan panen sekali dalam setahun. (hhmm….sayang ya?)

Bila terjadi hujan lebat, maka air sungai akan meluap sehingga rob (air sungai meluap hingga masuk ke dalam rumah). air sungainya akan berwarna kecokelatan. hal ini dikarenakan sungai mengangkut sedimen dan lumpur yang nantinya akan diendapkan di muaranya yaitu di Majingklak (kasian ya Laguna Sagara Anakan, jadi dangkal karena endapan sedimen Sungai Citanduy).
pada saat tersebut air sumur rasanya tawar. lain halnya bila musim kemarau. air sungai akan surut, akibatnya terjadi intrusi air laut yang menyebabkan sumur-sumur di kampung tersebut berasa payau. Selain itu, air sumur pun berwarna kecokelatan dan berbau. tidak hanya itu, di beberapa sumur penduduk bahkan ada yang sumurnya kering. Akibatnya masyarakat di Kampung Cilutung kesulitan dalam memperoleh air bersih.

masyarakat sekitar tidak mungkin memanfaatkan air Sungai Citanduy, sebab airnya berasa payau. Oleh karena itu, masyarakat harus berjalan sejauh 4 Km ke Kampung Kebon Kalapa untuk mendapatkan air bersih, dan setelah sampai di sana mereka pun harus lama mengantri untuk mendapatkan giliran memperoleh air bersih. Air tersebut ditampung dalam drum-drum kecil.

selain dengan pergi ke Kampung Kebon Kalapa, 20% masyarakatnya memilih untuk membeli air tersebut dari orang yang berkeliling untuk menjualnya dalam drum-drum. harganya mulai dari Rp.2000,- ; Rp.3000,- dan Rp.5000,- per drum sesuai dengan besar atau kecilnya drum tersebut.

Aku merasa prihatin melihat keadaan yang seperti ini. Aku menyarankan agar pemerintah daerah dan pemerintah pusat bekerjasama untuk pengadaan alat destilasi air agar masyarakat Kampung Cilutung tidak usah pergi sejauh 4 Km untuk mendapatkan air bersih, kan kasiaaaann…!!

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    Mr WordPress said,

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

  2. 2

    TUR WAHYUDIN said,

    he…he…

    dasar!!!

    semangat ya buat KKL nya…

    buat SP nya juga semangat…!!!

    Selamat datang di dunia blog wordpress.

    Efeknya kan sama kayak Friendster & YM-an sekali coba mau lagi mau lagi…

    ingin menulis SASTRA BUMI nih…!!!

    Kita tunggu tulisan terbarunya!!!

    Blog STUDI TUR kan bahasan utamanya tentang studi/belajar/pendidikan. saat ini yang rame apa ya???

    Atau kemaren nyeritain PLKM???

    Anggaran dana 20% buat pendidikan???

    MIMOSA 2008???

    Udah daftar belum di PKM jadi panitia MIMOSA???


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: